Terkait ide presiden jokowi di atas, saya berpendat bahwa ide tersebut baik dari pada program pendidikan/sekolah gratis. Pendidikan atau sekolah gratis yang sering kita jumpai di baliho dari pemerintah kabupaten/ kota maupun provinsi. Pendapat yang saya maksud diatas sangat singat saya tulis di kronologi jejaring media sosial facebook. "Terus terang saya suka dengan program seperti ini dari pada program "PENDIDIKAN GRATIS" yang penuh misterius. Semoga segera dilaksanakan dengan baik. #generasiOptimis".
Dalam komentar singkat tersebut saya juga menyertakan link berita dari situs media berita online kredibel, kompas.com. Dengan judul "sedang dirancang, mahasiswa boleh bayar kuliah setelah diterima kerja. https://nasional.
Sebelumnya saya baca link berita ini dari seorang pensiunan guru besar dalam bidang pendidikan UNESA Surabaya, Haidar. Beliau dalam diskusi di media, mengaku saat kuliah beliau memanfaatkan program semacam ini era 80/90an.
Kembali ke komentar saya yang sangat singkat dan link berita yang saya posting di media sosial (medsos) facebook, ternyata banyak respon juga. Hal ini saya sengaja untuk diskusi dengan teman teman yang ada di jejaring medsos. Diskusi minimal dengan teman saya yang mau membaca link berita tersebut. Terlebih teman medsos yang mempunyai informasi yang utuh dan lebih soal kebijakan ini.
Di amerika program seperti ini disebut dengan student loan atau pinjaman pendidikan. Jadi, kebijakan ini paling tidak ada dua intitusi yang saling berhubungan, lembaga pendidikan dan lembaga keuangan/perbankan. kalau dalam pembahasan akademis ada dua bidang yang harus dibahas yaitu kajian pendidikan dan kajian perbankan. Memungkinkan juga kajian industri dari sisi sumberdaya manusia.
Sebelum lebih lanjut dalam bahasan tulisan ini, saya klisifikasi komentar teman diskusi saya. ada tiga macam, keseriusan, sentimen politik dan subtansi.
Dari segi keseriusan ada dua macam, serius dan tidak serius dalam arti hanya komentar tanpa fikir panjang. Dari segi sentimen politik, mereka sangat tendensius untuk persiapan kampanye pilpres 2019. Dan dari segi subtansi teman saya mengkitisi , membandingkan, menyarankan atas program yang lebih baik lagi atas kebijakan pinjaman pendidikan ini.
Sebelum lebih lanjut tulisan ini, saya berusaha untuk kontekstualisasi atas ide PJ atas pinjaman pendidikan ini. Menurut saya yang melatari ide tersebut adalah peningkatan SDM Indonesia, pemerintah sedang mengembangkan pendidikan vokasi dan perluasan kredit dari perbankan.
Pertama, peningkatan SDM Indonesia adalah salah satu keniscayaan bagi pemimpin negara besar ini untuk segera direalisasikan terutama keterkaitan dengan janji kampanye PJ yang teruang dalam nawacita.negara dengan penduduk terbesar keempat ini sudah seharusnya mampu bersaing dengan negara-negara tetangga yang laju pekembanya cukup pesat. Sebut saja negeri jiran malaysia dan singapura dari segi ekonomi terus melejit.
Kedua, pengembangan pendidikan vokasi ahir ahir ini gencar diperluas oleh pemerintah. Tenaga kerja dengan skill yang mumpuni harus terus berkembang guna untuk mengimbangi era industrialisasi yang terus meluas di indonesia. Rata rata misalkan kita menggunakan contoh dilingkungan kita berkembang banyak industri yang membutuhkan tenaga profesional dalam bidang bidang tertentu sementara SDM yang kita miliki kembanyakan lulusan bidang agama dan atau pendidikan. Sarjana yang mengantongi ijazah agama dan pendidikan sudah membeludak maka mau tidak mau lapangan kerja yang ada walaupun tidak sesui dengan latarbelang pendidikan maka tetap menjadi incaran. Menjadi tenaga kerja kasar tentunya bukan piliahan mereka.
Ketiga, perluasan kiridit perbankan. Selama ini yang dikenal oleh publik kridit perbangkan untuk konsumtif, kredit kendaraan bermotor, sepeda motor, mobil, peralatan elektronik, kredit perumahan. Dan tentunya kredit untuk belanja sehari hari semakin meluas. Ada juga kredit usaha yang selama ini untuk pengembangan usaha baik sekala kecil, menengah dan besar. PJ dalam hal ini mengehendaki adanya kredit pendidikan yakni dengan cara mahasiswa pinjam di Bank yang telah ditunjuk dengan cara mengansur cicilan setelah mahasiswa lulus.
Dari ketiga alasan tersebut maka hal ini nyambung dengan visi pendidikan nasional yakni pemerataan pendidikan baik yang kaya atau kurang mampu secara ekonomi. Masyarakat juga bisa memilih pendidikan apa yang hendak dituju sesui dengan kemampuan akademik mereka. Memang selama ini sudah banyak akses pendidikan untuk masyarakat melalui program program yang sudah ada. Beasiswa dari berbagi instansi juga sudah dikucurkan. Mulai dari kementerian hingga beasiswa dari lembaga pendidikan sudah menawarkan beasiswa.
Lebih jauh jika kita menelisik sejumlah beasiswa yang ditawarkan misalnya LPDP, BIDIKMISI, Beasiswa berprestasi, pendidikan gratis oleh pemerintah daerah maka semua itu terdapat keterbatasan keterbatasan yang dialami mahasiswa. Bukan membantah ide tentang pinjaman pendidikan ini tidak punya keterbatasan namun penulis optimis ide pinjman pendidikan dari perbankan ini menjadi salah satu alternatif yang relatif lebih mudah. Pada akhirnya masyarakat bisa mempunyai banyak pilihan untuk mengakses pendidikan yang diinginkan.
11.19
Anang Romli, M.Pd.



