Minggu, 03 Desember 2017

MENJAGA AGAR REKRUITMEN CPNS KEMENAG BEBAS KKN

Saya tentu bersyukur bahwa rekruitmen CPNS kita tahun ini berjalan lancar. Dengan menggunakan metode Computer Assested Test (CAT) sangat memunginkan ketiadaan KKN di dalam menentukan kelulusan uji kompetensi tertulis. Meskipun masih ada yang meragukan tentang keakuratan dan ketepatan alat ukur ini, akan tetapi saya menjamin bahwa dengan CAT yang mengembangkan transparansi dan akuntabilitas, maka pelaksanaan CAT dan hasil yang dipublish pasti sesuai dengan tingkat kelulusannya.

Saya bersyukur bahwa penyelenggaraan test CPNS di Kemenag sudah memenuhi syarat yang distandarisasi oleh Kemenpan & RB. Sungguh kita sudah melakukan semua hal yang terkait dengan upaya membangun rekruitmen CPNS yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Tanpa sedikitpun ada upaya untuk melakukan perubahan score untuk meluluskan orang yang diinginkan. Semua berjalan sesuai dengan prosedur tetap dan standart baku yang sudah disepakati sebelumnya.

Kita sudah melalui proses awal test kompetensi yang meliputi Test Inteligensi Umum (TIU), Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP). Tes ini mutlak diselenggarakan oleh Kemenpan & RB dan hasilnya langsung diketahui saat itu juga. Sungguh sangat transparan dan tidak ada sedikitpun yang bisa dimanipulasi. Saya tahu, sebab ada salah seorang kolega yang bisa mencatat masing-masing score yang diperoleh calon PNS dan berapa rangking yang bersangkutan. Jadi kalau ada penyimpangan dipastikan akan bisa diketahui. Kita sudah melewati tahap pertama dengan tanpa ada sedikitpun cacat di dalamnya. Saya menjamin bahwa yang lulus tahap uji kompetensi, pastilah yang sesungguhnya memang lulus. Bukan direkayasa atau dimanipulasi.

Sekarang kita memasuki test kemampuan bidang atau disebut sebagai Seleksi Kemampuan Bidang (SKB). Beberapa saat yang lalu muncul berita di media bahwa satu aspek yang krusial dan memungkinkan terjadinya KKN ialah test wawancara atau SKB ini. Pemikiran seperti ini sesungguhnya berawal dari keraguan apakah kita bisa menjalankan amanat untuk rekruitmen CPNS dengan adil, dan bertanggungjawab. Pantaslah keraguan itu muncul, sebab bangsa ini memang sedang berada di titik terendah dalam hal menjaga kejujuran. Ada banyak korupsi, kolusi dan nepotisme yang terus dipelihara dan bahkan dikembangkan dengan cara-cara yang makin canggih. Kita sedang berada di dalam situasi bernegara dan berbangsa yang carut marut karena perilaku koruptif.

Makanya, sekaranglah saatnya, kita harus membuktikan bahwa di dalam rekruitmen CPNS, maka kejujuran menjadi taruhannya. Kita harus membuktikan kepada public bahwa sesungguhnya masih ada harapan untuk melakukan yang terbaik bagi bangsa ini. Kita harus meyakinkan bahwa para penyelenggara negara ini masih memiliki kejernihan hati dan integritas yang tentu diharapkan oleh masyarakat kita.

Hari Rabu, 22/11/2017, saya mendapatkan kesempatan untuk memonitor pelaksanaan wawancara yang dilakukan di UIN Sumatera Utara. Seluruh pejabat terkait memang diterjunkan untuk memantau terhadap pelaksanaan wawancara itu. Kemenag sudah mengantisipasi terhadap penyelenggaraan wawancara yang bebas dari KKN. Maka selain ada petugas yang menunggui pelaksanaan wawancara di seluruh titik diselenggarakannya wawancara untuk Seleksi Kompetensi Bidang, maka juga ditempatkan pada seluruh titik tersebut seorang petugas dari inspektorat jenderal Kemenag. Pak Pramono dari inspektorat investigasi Kemenag yang hadir di Medan.

Para auditor memang sengaja dilibatkan di dalam pelaksanaan wawancara sebagai salah satu upaya untuk menjaga terhadap ketiadaan peluang terjadinya penyelewengan dari para pewawancara. Namun demikian saya yakin bahwa para professor dan doctor serta dosen yang diminta untuk menjadi pewawancara adalah orang-orang yang sudah teruji integritasnya. Mereka adalah para dosen senior yang selama ini sangat dikenal sebagai orang yang sangat dihormati dan berjiwa besar. Mereka memiliki integritas yang tidak diragukan.

Dengan menyertakan para auditor dari itjen, tentu akan menambah kekuatan para penguji untuk berbuat yang terbaik bagi PTKN. Para dosen yang diamanahkan untuk menguji juga merasa mendapatkan kepercayaan dari negara untuk berbuat baik dan membuktian bahwa rekruitmen CPNS harus dijaga kewibawaannya dan kejujurannya.

Mereka telah dibekali dengan seperangkat instrument untuk menjaring tidak hanya kemampuan mengajarnya, melalui penyajian bahan ajar mata kuliah, akan tetapi juga diuji integritas dan rekam jejaknya. Melalui uji rekam jejak, maka akan diketahui siapa calon CPNS tersebut. Hal ini telah dimandatkan dalam pertemuan rector PTKN dan juga tim penyusun instrument beberapa saat yang lalu. Rekam jejak dianggap sangat penting agar kita bisa menghasilkan CPNS yang memiliki komitmen terhadap kenegaraan dan kebangsaan.

Jika da calon CPNS yang tidak loyal kepada Pancasila, UUD 1945, dan NKRI serta Keberagaman, maka pewawancara akan bisa mempunishnya. Selain itu, tim rekruitmen CPNS kemenag juga bisa melakukan uji rekam jejak sesuai dengan prosedur dan cara-cara yang benar.

Kita berharap agar pelaksanaan wawancara dalam SKB akan menjadi barometer bagi kemenag, bahwa kejujuran itu masih ada. Dan yang kita lakukan semuanya memiliki tanggungjawab tidak hanya di dunia tetapi juga di akherat kelak.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Prof. Dr. Nur Syam, MA.
Copas dari http://nursyam.uinsby.ac.id/               

Apa Arti Kafir?


Kafir adalah istilah keagamaan (Islam) dalam bahasa Arab, yang secara harfiah berarti “(orang) yang menutup diri”. Bentuk noun-nya adalah “kufur” yang berarti “penyangkalan atau pengingkaran”. Secara istilah (terminologis), “Kafir”  berarti “orang yang menutup atau  menyangkal atau mengingkari “Kebenaran” (dengan K besar yang berarti Tuhan), sekaligus menutupi atau mengingkari bukti-bukti tentang adanya Kebenaran Tuhan.

Inilah karena dalam keyakinan umat beragama, semua agama,  tidak ada kebenaran yang lebih mutlak, absolut dan tidak terbantahkan selain “Tuhan” itu sendiri. Bagi umat beragama, Tuhan diyakini bukan hanya sebagai Kebenaran, tapi sekaligus sumber dan rujukan dari semua “kebenaran”.  Karena itu lazim dikatakan bahwa penyangkal Kebenaran (dengan K besar yang berarti Tuhan), disebut si Kafir, si Penyangkal.

Dalam perkembangan sejarahnya,  istilah “Kafir” dapat dibedakan menjadi dua tingkatan: kafir mutlak/ absolut dan kafir nisbi/ relatif. Kafir absolut adalah orang yang sama sekali tidak percaya pada adanya “Tuhan” sebagai Pencipta segala yang ada, sekaligus sebagai yang maha mengatur jagat raya  dan seisinya. Bagi mereka, alam dan jagat seisinya, termasuk dirinya sendiri, menjadi ada bukan karena (diciptakan) Tuhan, melainkan meng”ada” dengan dirinya sendiri, atau mengada secara alami. Dalam istilah filsafat, orang yang seperti ini dikenal dengan sebutan “atheist”, orang yang menyangkal adanya Tuhan.
Di samping Kafir absolut (atheis) ada yang disebut  “Kafir Relatif/ Nisbi”. Yakni orang yang percaya kepada Tuhan sebagai Pencipta alam semesta, tapi dengan konsep “ketuhanan dan keagamaan” yang berbeda antara yang dianut oleh satu agama dengan kelompok agama yang lain. Tuhan, sebagaimana dikonsepsikan dan diyakini umat agama A, bisa  berbeda dengan Tuhan yang diyakini oleh umat penganut agama B, C, D dan seterusnya. Bahkan boleh jadi dalam satu rumpun umat agama yang sama, katakanlah agama A, bisa muncul konsep yang lebih detail perihal Tuhan yang berbeda-beda.

Karena itu bisa dikatakan bahwa dilihat dari konsep ketuhanan yang diimani umat lain semua orang adalah kafir.  Kekafiran seperti ini terkait dengan keyakinan pada satu doktrin ketuhanan tertentu yang diajarkan oleh agama tertentu. Atribut ke-kafir-an yang bersifat nisbi ini tertuju atau terlabelkan bukan pada orang yang sama sekali tidak percaya adanya Tuhan alias Atheis, melainkan terhadap orang atau komunitas yang tidak percaya kepada Tuhan yang dikonsepsikan dan diimani oleh penganut agama atau keyakinan yang berbeda.

Sebagaimana kita ketahui, semua agama bertumpu pada doktrin keimanan primer terhadap Tuhan. Bukan agama kalau tidak mendoktrinkan keimanan adanya Tuhan. Meskipun demikian harus diakui  bahwa konsep Tuhan yang dirumuskan dan diyakini oleh masing-masing agama bisa berbeda antara yang satu dengan yang lain. Bahkan umat satu agama dengan mazhab atau aliran yang berbeda pun bisa memiliki konsep atau citra Tuhan yang berbeda pula.
Kenapa begitu? Sederhana saja jawabannya. Karena meskipun semua agama percaya pada Tuhan, dan mendoktrinkan umatnya untuk berserah diri kepada-Nya, tidak ada satu pun di antara mereka yang pernah bertemu, melihat sendiri secara kasat mata,  dan berkomunikasi langsung dengan “Sosok” yang diklaim sebgai Tuhan itu. Toh mereka tetap percaya; itulah yang disebut  “iman”; suatu “keberanian” luar biasa untuk mempercayai sekaligus mempertaruhkan “hidup” pada “Sosok” yang sama sekali belum dan tidak pernah dilihat dan disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Maka bisa dimengerti, jika dikatakan  bahwa iman adalah “hidayah” atau “bimbingan” Tuhan  kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jika saja iman kepada Tuhan sepenuhnya merupakan hasil pencarian manusia dengan akal-budi atau nalarnya, niscaya hanya para filsuf sajalah yang bisa menjadi manusia beriman. Nyatanya tidak. Bahkan tidak sedikit filosof yang secara aktif mendakwahkan kekufuran atau penyangkalan kepada Tuhan, alias atheis. Iman adalah “anugerah” bimbingan dan uluran tangan Tuhan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Pemikir atau filosof ulung pun, jika tidak karena hidayah-Nya, niscaya akan tetap dalam penyangkalan (kekafiran) terhadap-Nya.
Memang sebagian orang, yang jumlahnya cukup banyak, besar kemungkinan menjadi beriman lebih karena  keturunan, karena pengaruh lingkungan keluarga atau masyarakat sekitarnya. Itulah modal awal yang sangat berharga. Tapi tanpa refleksi yang lebih mendalam terhadap “keimanan” yang terberikan lewat lingkungan primernya, keimanan seperti itu akan mudah tergerus oleh pengaruh sekitar yang menafikannya. Keimanan seperti itu akan mudah goyang bahkan runtuh oleh ujian-ujian kehidupan sesaat.

Di sinilah letak urgensi dari  aktivitas ritual berjamaah bersama komunitas seiman yang lazim dilakukan dalam tempat-tempat ibadah (masjid, gereja, vihara dsb) di bawah bimbingan para imam (tokoh-tokoh agama) lokal masing-masing. Khutbah para imam di sini memegang peranan penting untuk memelihara dan meneguhkan keimanan komunitas iman masing-masing. Tidak mudah dihindarkan karena adanya khutbah-khutbah pemupukan keimanan dalam bingkai fanatisme yang acapkali menyangkal atau merendahkan konsep keimanan pihak lain.
Di sinilah perlunya forum para pemimpin umat beragama sebagai kepala-kepala ‘suku’, untuk memupuk toleransi antar komunitas beriman/ beragama, minimal untuk menghindari konflik sesama; syukur-syukur bisa mendorong kerja sama bagi kemajuan sebangsa. Bagi bangsa Indonesia yang luar biasa plural, baik dalam keyakinan maupun etnik dan orientasi politiknya, dialog antar iman ini sangatlah dibutuhkan.

Kebinekaan bangsa Indonesia adalah kodrat, yang jika kita bisa rawat dan syukuri  akan menjadi anugerah yang sangat indah. Sebaliknya jika gagal merawatnya, bahkan kita ingkari dan kufuri, maka seketika kebinekaan itu akan berbalik menjadi musibah dan kutukan yang menghancurkan segalanya. Semua itu tergantung kita sendiri, terutama para pemimpin agama, untuk membuktikan bahwa agama itu rahmat, bukan laknat!

dicopas dari http://news.liputan6.com/read/2848410/opini-apa-arti-kafir

Sabtu, 02 Desember 2017

Mengenal Kitab Fiqh Perbandingan Mazhab



Kitab Perbandingan Madzhab
Para santri tingkat awal belajar fiqh melalui kitab kecil seperti Safinah dan Taqrib. Ini kitab fiqh berdasarkan mazhab Syafi’i. Baru kemudian meningkat pada kitab syarh-nya seperti Kasyifatus Saja dan Fathul Qarib. Seiring naik tingkat, para santri akan mengenal kitab fiqh Syafi’i kelas menengah seperti Fathul Mu’in dan Syarhnya seperti I’anah. Lanjut kemudian dengan kitab fiqh babon mazhab Syafi’i seperti Minhaj-nya Imam Nawawi. Dengan asumsi dasar-dasar fiqh Syafi’i sudah kokoh, para santri senior kemudian dikenalkan dengan keragaman pendapat di luar mazhab Syafi’i.

Di bawah ini saya tuliskan sedikit catatan mengenai sejumlah kitab fiqh yang merangkum 4 mazhab fiqh: Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali. Di luar 4 mazhab juga ada mazhab lain seperti Zhahiri, Jafari, Zaidi dan mazhab lain yang sudah tak ada pengikutnya lagi seperti Abu Tsaur, Auza’i, Thabari. Di luar itu juga masih ada opini lain dari individual ulama yang kadang kala berbeda dengan pendapat mazhabnya. Namun sekarang kita fokuskan saja dulu ke-4 mazhab. Yang saya cantumkan ini adalah kitab yang merangkum 4 mazhab, bukan kitab yang ditulis oleh ulama mazhab tertentu yang kemudian mencantumkan dan mengomparasikannya dengan mazhab lain –kitab kategori ini misalnya al-Mughni Ibn Qudamah, al-Majmu’ Imam Nawawi atau Hasyiah Ibn Abidin.

Pertama, kitab Rahmatul Ummah fi Ikhtilafil A’immah. Ini kitab fiqh yang merangkum pendapat dari keempat mazhab. Disusun berdasarkan bab fiqh standard. Tidak ada pencantuman dalil, diskusi maupun pandangan penulisnya. Ini hanya merangkum saja. Tidak lebih. Fungsinya hanya membantu kita mengetahui adakah perbedaan pendapat dalam satu kasus. Judul kitab ini menyifatkan pesan khusus bahwa perbedaan pendapat fiqh para imam mazhab itu adalah rahmat untuk umat. Kitab ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Kedua, kitab al-Mizanul Kubra. Biasanya dicetak bareng dengan Kitab Rahmatul Ummah (pada hamisy atau pinggir). Dalam kitab ini sudah ada penjelasan singkat terhadap pendapat yang dirangkum, bahkan Imam Sya’rani pengarang kitab al-Mizanul Kubra ini juga memaparkan pandangannya dengan memberikan pertimbangan mana pendapat fiqh yang ringan dan mana yang berat untuk dilaksanakan. Rasanya belum ada kitab terjemahnya dalam bahasa Indonesia (CMIIW).

Ketiga, kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibn Rusyd. Di pesantren modern seperti Gontor kitab ini dibaca oleh para santri senior, namun di pesantren salaf tidak semuanya mengajarkannya. Kitab ringkas 4 juz ini bukan saja merangkum perbedaan pendapat tapi juga menjelaskan sebab perselisihannya. Dalil juga dicantumkan hanya saja cukup terbatas. Saya rekomendasikan untuk membaca juga kitab Syarh-nya yang menjelaskan lebih detil mengenai dalil yang dicantumkan Ibn Rusyd. Maklum saja kitab ini memang sekedar permulaan saja (bidayah). Anda tidak bisa mengklaim sebagai mujtahid hanya karena membaca kitab ini. Kitab ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Keempat, kitab yang lebih luas dari Bidayatul Mujtahid adalah kitab al-Fiqh ‘ala Mazahabil Arba’ah. Kitab 5 jilid ini disusun oleh Abdurrahman al-Jaziri. Kitab ini sudah ada di aplikasi android (arab). Saya pernah lihat terjemahannya juga sudah ada di Gramedia. Pembahasannya lebih kengkap dari ketiga kitab di atas.

Kelima, Kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah disebut-sebut sebagai yang paling lengkap merangkum opini 4 mazhab. Ditulis oleh kumpulan para ulama yang disponsori oleh pemerintah Kuwait. Terdiri dari 45 jilid yang pembahasannya berdasar alfabet arab. Jelas ini memudahkan untuk mencari topik pembahasan. Anda cukup mencari kata kunci dan melacaknya berdasarkan huruf hijaiyah. Tentu ini berbeda dengan kitab fiqh standar yang berdasarkan topik dan selalu dimulai dengan pembahasan masalah thaharah. Di bagian akhir kitab ensikopledi fiqh Kuwait ini memasukkan info mengenai nama dan bio singkat para fuqaha.

Corak pembahasannya: setelah mengurai defenisi, kemudian menyebutkan persoalan pokok dalam entry fiqh yang sedang dibahas, setelah itu menyebutkan perbedaan pandangan para ulama yang diurai dengan sistematis berikut masing-masing dalilnya. Kelemahannya adalah tidak adanya diskusi maupun analisis perbandingan. Sedari awal ini disadari oleh penyusunnya dan itulah sebbanya mereka memilih judul mausu’ah atau ensiklopedi.

Keenam, tentu masih ada kitab fiqh muqarin (perbandingan) lainnya seperti karya Syekh Wahbah al-Zuhaili yang berjudul al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu yang isinya 9 jilid dengan jilid ke-10 berisi index dan maraji’. Syekh Wahbah al-Zuhaili juga menulis Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islami wa Al-Qadhaya Al-Mu’ashirah (14 jilid). Syukur alhamdulillah kedua kitab fiqh modern ini sudah bisa didownload (cari sendiri linknya jangan tanya saya yah).

Demikian sedikit penjelasan mengenai kitab fiqh perbandingan mazhab. Karakter fiqh itu memang membuka ruang perbedaan pendapat. Jadi tidak perlu kafir-kafiran gegara beda pendapat. Gak perlu membully ulama yang punya fatwa berbeda. Semua Imam Mazhab punya fatwa yang dianggap nyeleneh atau kontroversial. Sekedar menyebut beberapa contoh saja:

Imam syafi’i bolehkan anak hasil zina dinikahi oleh “bapak” biologisnya karena nasab disandarkan ke ibunya. Apa kita berani bilang Imam Syafi’i itu Yai Zina? Memangnya kita siapa dibanding beliau?

Imam Malik mengatakan anjing itu suci, tidak najis. Ini beda dengan mazhab lainnya. Apa berani kita nyinyiri beliau dengan membully mengatakan beliau itu Yai Anjing? Na’udzubillah.

Imam Abu Hanifah membolehkan minum nabidz dalam kadar tidak memabukkan. Mazhab lain mengharamkan. Apa kita berani komen beliau itu Yai Tukang Minum? Kacau kannn!

Imam Ahmad mengatakan batal wudhu sehabis makan daging unta, mazhab lain mengatakan tidak batal. Apa berani kita nyindir beliau itu Yai Unta? Ngawur banget kita!

Imam Dawud al-Zhahiri bilang lemak/tulang babi tidak haram, yang haram cuma dagingnya. Mazhab lain membantah dengan keras. Tapi tidak ada ulama mazhab lain yang mencaci maki beliau dengan sebutan Yai Babi! Gak sampai segitunya.

Semua ulama fiqh itu sebelum mengeluarkan fatwa akan memeriksa dalil dan kaidah usul al-fiqh nya dulu. Lha kita bisanya cuma nyinyir.

Jumhur ulama juga belum tentu benar pendapatnya. Kebenaran dalam Islam ditentukan lewat kekuatan dalil bukan banyak-banyakan jumlah pengikut, apalagi pakai turun ke jalan dan teriak “bunuh-bunuh”.

Fatwa itu tidak mengikat. Sebagai contoh, kalau tidak cocok dengan fatwa Kiai Ma’ruf Amin, boleh pilih fatwa Gus Mus. Gak cocok dengan Gus Mus, pilih fatwa Mbah Moen. Mau pilih pendapat saya juga boleh hehehe

Karakter fiqh itu memang meniscayakan beda pendapat. Gak usah memaksakan pendapat. Semua ulama punya rujukan dan argumen. Semakin kita luaskan bacaan kita dengan membaca kitab fiqh perbandingan mazhab akan semakin toleran kita menyikapi keragaman pendapat. Yang suka memutlakkan pendapatnya atau pendapat ulama yang diikutinya itu bisa ditebak belum luas wawasan dan bacaannya. OK, jelas yah?!

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School (dicopas dari http://nadirhosen.net/tsaqofah/syariah/mengenal-kitab-fiqh-perbandingan-mazhab )

Senin, 22 Februari 2016

Syekh Siti Jenar; Antara Cerita, Logika dan Syariah

Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.
Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin Sayyid 'Ali Khali Qasam bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir bin Sayyid 'Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid 'Isa An-Naqib bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi bin Imam Ja'far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.
Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.
Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu. KesultananMalaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani. Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.
Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.
Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.
Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:
1. Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan sekitarnya
2. Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya,
3. Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara
4. Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan, India, Yaman.
Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.
Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.
Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.
KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:
1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah sejarah bohong. Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….
2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.
3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.
4. Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun.Manusia lahir dari manusia dan akan wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.“
5. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Bantahan saya: “Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah. Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama. Tidak bisa diterima akal sehat.”
Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:
1) Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]
2) Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak]
3) Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar]
Wahai kaum muslimin melihat fenomena seperti ini, maka kita harus waspada terhadap upaya para kolonialist, imprealis, zionis, freemasonry yang berkedok orientalis terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-hati jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam. Jangan mau umat Islam ini pecah. Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu dalam naungan Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam
Alfatihah..

Jumat, 12 Februari 2016

TENTANG CAK NUN

Pada suatu pengajian Cak Nun di Demak, tiba-tiba ada seorang remaja naik ke atas panggung. Dengan sigap, panitia acara lantas mengusir rema...ja laki-laki gila tersebut, karena panitia dan masyarakat sekitar tahu bahwa remaja laki-laki tersebut memang terkenal gila betulan.
Di saat ribuan orang menganggapnya gila, hanya satu orang yang mau menyapa hatinya. Cak Nun memanggil remaja laki-laki gila tersebut untuk kembali ke atas panggung. Di saat ribuan orang menganggapnya seperti virus penyakit sehingga harus dijauhi, bahkan kalau perlu diludahi kalau nekat mendekat, Cak Nun langsung mendekap tubuh bocah kesepian tersebut.

Bocah tersebut pun sangat kaget, karena di dunia ini masih ada orang yang mau menyapa hatinya, bahkan memeluk tubuhnya. Tanpa ada rasa jijik sedikit pun. Tanpa ada rasa malu sedikit pun. Sosok berbaju putih tersebut justru memeluknya semakin mesra dan menatap ribuan jamaah sambil tersenyum. Seolah Cak Nun ingin bilang pada masyarakat Demak, “Ini salah satu anakku.”
Remaja laki-laki itu memang bocah kesepian. Namanya Edy Setiawan. Sudah yatim-piatu, dianggap orang gila pula. Hidup sebatang kara di dunia ini. Tidak ada yang mau menjadi temannya. Mungkin kalau ia mendekati teman-teman sebayanya, ia akan dipukuli agar takut mendekat lagi. Mungkin kalau ia duduk-duduk di warung makan, ia akan langsung diberi kerupuk dan diusir.

***
Seorang Muhammad Ai(nun) Nadjib memang manusia berlian. Hati beliau bening, mengkristal indah, dan bisa memancarkan cahaya kasih sayang. Meski luar biasa “mahal”, seorang Cak Nun tidak risih bercengkerama dengan rakyat jelata, bahkan mau memeluk orang gila.
Meski diakui kadar intelektualitasnya oleh profesor-profesor dari negara maju di Eropa Barat, Cak Nun mau mendidik orang-orang di perdesaan yang mungkin kebanyakan hanya tamatan wajib belajar 9 tahun. Bercengkerama semalam suntuk. Mendengarkan keluh kesah. Membesarkan hati. Selama 20 tahun keliling Indonesia tanpa henti. Sudah “jalan kaki” ke lebih dari 1.300 desa di 28 provinsi.
Cak Nun tidak mengenal gengsi seperti kebanyakan diri kita. Meski sering keliling dunia di empat benua, bertemu petinggi-petinggi negara dan pemuka agama taraf internasional, beliau mau berteman akrab dengan kuli-kuli gendong di pasar. Meski sahabat seorang raja (Sultan HB X), beliau tetap mau kumpul-kumpul cekakakan dengan para preman dan para tukang becak.

Meski sangat ditakuti Pak SBY yang konon mengaku seorang presiden, beliau mau menerima telepon dari seorang gelandangan. Beliau tidak risih, bahkan bergembira, mendengar “laporan” pemuda pengangguran 35 tahun yang berlagak intelijen tentang situasi demo di depan DPR.
Meski di-kiai-kan oleh para kiai, Cak Nun tetap mau mengadakan pengajian khusus untuk para pelacur di beberapa tempat. Tidak pernah memvonis masuk neraka, tapi untuk membesarkan hati. Para pembaca tulisan saya ini yang dari kalangan pesantren pasti akrab dengan dua adagium ini: Kalau tidak bisa memperbaiki, jangan menambah kerusakan. Menghindari mudarat lebih diutamakan daripada mengharapkan manfaat.

Kalau diri kita tidak bisa menolong para pelacur untuk keluar dari lembah hitam, diri kita jangan juga lantas memutus harapan para pelacur dari kasih sayang Allah. Ingin tampak lebih gagah dan lebih suci? Hanya orang yang tidak gagah dan tidak suci yang butuh pengakuan.
Jangankan membutuhkan pengakuan, bahkan beliau senang menutupi aneka kebesaran yang sudah melekat pada dirinya sendiri. Sekalipun keturunan Imam Zahid, tapi tidak mau dipanggil “Gus”. Perlu para pembaca tahu, Imam Zahid itu sahabat Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari, sama-sama santri kinasihnya Syaihkona Kholil Bangkalan. Tak heran pula Gus Dur sangat menyayangi Cak Nun, demikian pula sebaliknya.

***
Ketika seorang presiden “menasionalisasi” Lumpur Lapindo, bahkan menyebutnya sebagai bencana alam, akhirnya Cak Nun yang pasang badan untuk 11.800 keluarga korban. Cak Nun sendiri yang menelepon Ibu Rosmiyah Bakrie, meminta agar anaknya mau menyantuni puluhan ribu warga Sidoarjo, meski pengadilan telah menyatakan perusahaan anaknya tidak bersalah.
Ketika bentrokan antara perusahaan budidaya udang dengan petambak udang di Tulangbawang sudah memuncak, hingga menewaskan tiga orang dan membuat cukup banyak orang luka-luka, Cak Nun tampil menengahi kedua pihak. Beliau pun meminta diadakannya perubahan paradigma pemerintahan kabupaten Tulangbawang dan pembenahan pada tingkat elit perusahaan. Alhasil, selang beberapa waktu, kedua pihak tersebut tidak hanya rukun, tapi juga semakin sejahtera. Perusahaan budidaya udang semakin laba, para petambak udang semakin sejahtera.
Tentu masih banyak cerita heroik lainnya. Lalu, demi pamrih apakah Cak Nun tampil dimana-mana? Popularitas? Uang?

Jika Anda menganggap perjuangan seorang Muhammad Ainun Nadjib untuk materi dunia, pasti Anda ditertawakan Pak Harto. Sedikit cerita, sejengkel-jengkelnya Pak Harto pada kritikan pedas Cak Nun terkait jalannya Orde Baru, Pak Harto tidak bisa memenjarakan beliau. Pak Harto sangat tahu bahwa beliau tulus orangnya.
Satu-satunya orang yang berani “kurang ajar” pada Pak Harto hanya Cak Nun—semisal lungguh jigang atau berambut gondrong saat di istana—dan Pak Harto tidak bisa marah. Ketika Cak Nun bilang kepada Pak Harto untuk segera mandeg pandhito, Pak Harto hanya diam tersenyum dan mengangguk. Sebab Pak Harto tahu Cak Nun kalau ngomong sesuatu bukan untuk dirinya sendiri. Diiming-imingi saham perusahaan, Cak Nun menolak. Ditawari jabatan menteri pada 1980-an, Cak Nun juga menolak.

Semua perjuangan ikhlas demi rakyat. Orang bisa berbohong dan berhasil membohongi banyak orang, tapi tidak akan bisa bertahun-tahun. Level penipu ulung sekalipun. Sebab manusia digariskan tidak akan tahan menjadi bukan dirinya sendiri lama-lama. Ini rumusnya.
Seorang Muhammad Ainun Nadjib mampu mengayomi rakyat 20 tahun lamanya, tanpa pernah meminta upah seperser pun. Dari 20 tahun lalu hingga detik ini beliau tidak pernah berubah. Selalu mengayomi rakyat.

Ketika dulu masih muda, setelah shalat di mushola, beliau mendapat suatu ilham. Tanpa pikir panjang, beliau segera menelepon saudara-saudaranya di Jombang. Minta dicarikan empat orang yang sangat miskin tapi akhlaknya baik malam itu juga. Sebab besok paginya beliau akan mengirim uang ke Jombang, untuk ongkos naik haji keempat orang tersebut.
Tetap saja begitu hingga sekarang. Beliau tetap sering mengirimkan uang ke banyak orang miskin. Entah untuk ongkos naik haji, entah untuk modal usaha bikin warung kelontong, entah untuk beasiswa, dan sebagainya.

Apakah persediaan uang tersebut ada dengan jalan meminta? Atau mengajukan proposal? Tidak pernah sekalipun.
Dulu Cak Nun pernah akan diberi cek dengan nominal Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) oleh seorang pengusaha, tapi cek tersebut langsung disobek beliau. Sekadar info, menyobek cek itu aslinya tidak apa-apa, karena uangnya tetap utuh di dalam brangkas bank. “Kalau ketemu saya lagi, mending ditraktir makan saja,” kata beliau sambil tersenyum.
Ciri-ciri pejuang sejati adalah mampu menghidupi perut dan idealisme dirinya sendiri. Ciri-ciri pejuang sejati adalah mampu menolong orang lain dengan hasil kerja keras dirinya sendiri.

***
Indonesia ibaratnya adalah sebuah kapal yang panjangnya 12,5 kilometer. Kapal raksasa ini mempunyai 39 rusuk. Ada sekitar 15 rusuk yang sudah retak, dan sungguh kapal ini tinggal menunggu waktu untuk tenggelam, kalau tidak diperbaiki. Apalagi empat dari lima ruangan utama kapal ini sudah hancur.
Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi, yang jelas, suatu hari Indonesia akan mendatangi kesejatian, karena kepalsuan bersifat sementara dan kegelapan bersifat menghancurkan. Indonesia mau tidak mau akan mengikuti kesejatian, sebab hanya kesejatian yang memiliki perspektif masa depan cerah.
Tulisan ini sama sekali bukan untuk me-monumen-kan Muhammad Ainun Nadjib, karena haram hukumnya mabuk pada seseorang. Ketika saya menulis tentang Cak Nun, Gus Dur, Gus Mus, atau yang lainnya, harapan saya adalah untuk dijadikan uswatun hasanah.

Jika kita menjadikan “Cak Nun” sebagai kata kerja yang cair dan dinamis, bukannya sebagai kata benda yang padat dan statis, maka beliau akan bernasib sama dengan Bung Karno dan Gus Dur kelak. Tidak ada manusia yang hidup abadi, tapi dengan suatu mekanisme cinta, beliau akan bisa tetap selalu hidup. Di hati kita.
Saya tidak berani berharap apa-apa pada Indonesia. Bangsa ini memang tidak butuh Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, maupun Muhammad Ainun Nadjib, karena ketiganya manusia yang agung.

Suatu hari, karena tidak kuat membayar ustadz yang muda, ganteng dan terkenal, akhirnya para TKW di Hong Kong meminta Cak Nun yang datang. Di luar dugaan, Cak Nun hanya mau dengan tiga syarat; (1) Tidak mau dibayar, (2) tidak perlu dijemput di bandara, dan (3) tidak mau tidur di hotel.
Akhirnya, Cak Nun terbang ke Hong Kong dengan kocek sendiri, menuju lokasi naik bus, dan istirahat malam di rumah inap biasa. Ketika ditanya para TKW Hong Kong kenapa sampai berbuat demikian, beliau menjawab, “Aku datang sebagai bapakmu.”
Muhammad Ainun Nadjib. Perpaduan antara kedahsyatan dengan kelembutan. Pengayom sebuah bangsa yang yatim. copas dari facebook.com
 

Senin, 22 Juni 2015

Mengapa Muhammadiyah Beda dengan NU?

KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan Islam menurut skil dan lingkungan masing-masing. Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari Kuto Ngayogyokarto. Sementara Kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia.

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu. Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain:


 1.    Shalat Tarawih sama-sama 20 rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat Tarawih 20 rakaat di Masjid Syuhada Yogya.
2.    Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan.
3.    Baca doa Qunut Shubuh.
4.    Sama-sama gemar membaca shalawat (Diba’an).
5.    Dua kali khutbah dalam shalat Ied, Iedul Fithri dan Iedul Adha.
6.    Tiga kali takbir, “Allah Akbar”, dalam takbiran.
7.    Kalimat iqamah (qad qamat ash-shalat) diulang dua kali.
8.    Dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.

Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitab Fiqih Muhammadiyah yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan oleh: Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343-an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktek ibadah yang rupanya “harus beda” dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail (dalil-dalil), nanti difikir bareng dan dicari-carikan.

Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah tesis yang meneliti hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah: bahwa mayoritas hadits-hadits yang dipakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha’if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma’in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha’if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau fadhail al-a’mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktek ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih 8 plus 3 witir, bagaimana prakteknya?

Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi: 4, 4, 3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk Tarawih. Dan tiga rakaat untuk Witir. Model Witir tiga sekaligus ini versi madzhab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu Witir. Ini versi asy-Syafi’i.

Tapi pada tahun 1987, praktek shalat Tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH. Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di Masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadits dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadits Muslim lebih shahih ketimbang hadits empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushalla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat Tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan Pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai Departemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu dipakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama menggunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai hadits rukyah dan ikmal.

Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode “wujud al-hilal”. Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Quran berisikan seruan “taat kepada Allah, RasulNya dan Ulil Amri” dibuang dan alergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.


 Populerkah metode “wujud al-hilal” dalam tradisi keilmuwan falak? Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupun sekarang.

Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus derajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya takkan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat?

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain?

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu’ atau teropong modern sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.


Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan Majlis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelemahan akademik pasti ada. (Diedit ulang dari tulisan Ustadz Sulaiman Timun Mas).

sumber: www.muslimedianews.com

Minggu, 21 Juni 2015

Subhan ZE (1931-1973): Oposan Flamboyan Dua Rezim

Aktor politik, sipil dan militer, jelang transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru pasti mengingat nama Subhan  ZE. Tokoh politik dari Nahdlatul Ulama yang sinarnya redup selepas kematian misterius akibat kecelakaan lalu lintas di Riyadh, Arab Saudi tahun 1973. Beberapa saat sebelum kematiannya, ia memberikan wawancara eksklusif koresponden AFP, Brian May, tentang jaringan bisnis Soeharto yang ada di Singapura, Belanda, dan AS. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kudus, Jawa Tengah.

Beberapa hari pasca pembunuhan para Jenderal, dini hari 1 Oktober 1965, hampir seluruh Jakarta  mencekam. Keadaan berbeda terjadi di kediaman Subhan  ZE Jl. Banyumas 4, Menteng. Ramai oleh hingar-bingar para aktivis anti PKI. Berasal dari aktivis ormas Islam, Kristen, dan Katolik. Mereka mengkonsolidir diri ke dalam Komando Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu yang dipimpin oleh Subhan  ZE (NU) dan Hary Tjan Silalahi (PMKRI/Katolik). Sejak itu, Subhan  melesat menjadi the rising star.

Ia menjadi tokoh sipil yang mampu menggerakan massa aksi menuntut pembubaran PKI. Tokoh NU yang diterima oleh banyak pihak. Sulastomo (mantan Ketua Umum PB HMI), dalam memoarnya, mengakui hal ini. Menurutnya Subhan  banyak memberikan pertimbangan dan nasehat kepada PB HMI dan menjadikan rumahnya seperti markas kedua setelah markas di Jl. Diponegoro sekaligus sebagai dapur umumnya.

Tidak hanya sipil, Subhan  juga dekat dengan Angkatan Darat. Keberadaan KAP Gestapu mendapat dukungan dari kelompok itu. Kedekatannya semata-mata karena kepentingan yang sama. Membendung pengaruh komunisme. PKI melihat NU sebagai lawan politik dan ideologi. Ketidaksukaan terhadap komunisme tidak hanya ditunjukan di dalam negeri. Selaku Vice President dari Afro Asia Economic Coorporation (Afrasec) tahun 1960-1962 ia pernah mengusir delegasi Rusia dari persidangan di Mesir. Setibanya di tanah air dia ditahan.

Kedekatan Subhan  dengan tentara retak lima tahun berikutnya.
Tahun 1966 Subhan  diangkat sebagai Wakil Ketua MPRS. Dalam posisinya, ia tetap konsisten mendesak pembubaran PKI dan meminta ‘pertanggungjawaban’ Soekarno sebagai Presiden. Soeharto yang diuntungkan dari ‘kecelakaan PKI’ dikukuhkan sebagai Presiden oleh MPRS tahun 1968.
Melawan Soeharto
Setelah pelantikan Soeharto, Subhan  tidak berhenti menjadi seorang ‘pemberontak’. Ia mencaci pola ‘redressing’ gaya Soeharto yang mengamputasi perangkat demokrasi di dalam lembaga legislatif.
Kritik keras dia sampaikan dalam sebuah pidato sebagai wakil ketua MPRS. Ia menuding kaidah-kaidah Orde Baru mulai kabur dan tidak lagi menjadi landasan perjuangan bagi seluruh komponen Orde Baru. Ia juga menyatakan bahwa “machinery” Orla sudah mendapat jalan melalui sel-sel koruptif, intrik, dan konspirasi yang sudah merajalela.

Menurut Subhan , pemerintah harus segera mengingat kembali kaidah-kaidah dasar perjuangan Orde Baru, yang intinya: 1) penegakan tata kehidupan demokrasi; 2) penegakan tata kehidupan hukum dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari; 3) pengusahaan adanya pendemokrasian di dalam pelaksanaan kebijaksanaan ekonomi, dan; 4) penegakkan hak asasi manusia (Choirul Anam, 1985).

Dengan lebih tajam, Ia mengkoreksi pemerintahan Soeharto yang sengaja menunda penyelenggaraan pemilu 1968 menjadi 1973. Berkat perlawanan gigihnya pemilu bisa berlangsung tahun 1971.

Jelang pemilu, konfrontasi terbuka Subhan  dengan Soeharto semakin tidak terelakkan. Ia mengkritik menteri dalam negeri waktu itu, Jenderal Amir Machmud, agar menjadi wasit yang adil dan jangan main “bulldozer”.  Lebih jauh ia menyesalkan keluarnya Permendagri No 12/1969 yang melarang keterlibatan anggota departemen (PNS) di dalam partai politik yang dinilai hanya menguntungkan Golkar. Ia menyebut Permendagri tersebut tidak memenuhi syarat perundang-undangan dari sudut formal karena bertentangan dengan UU No 18/1968. Dari sudut material, hakekatnya materi tersebut diatur dalam undang-undang dan bukan Permen.

Kritik-kritik terhadap rezim baru juga dia sampaikan selama masa kampanye. Dalam catatan Choirul Anam, penulis buku ‘Pertumbuhan dan Perkembangan NU’, pidato politik Subhan  saat berkampanye kerap mengumandangkan istilah “jihad” untuk mengobarkan semangat politik umat Islam. Istilah “jihad” ini juga kemudian digunakan oleh Soeharto dalam pidato tanpa teksnya saat meresmikan pasar tekstil Klewer di Surakarta. Soeharto menyatakan bahwa setiap usaha “jihad” yang selalu dikobar-kobarkan golongan tertentu akan dihadapi oleh pemerintah dengan dengan semangat “jihad” pula. Komentar Soeharto di wilayah publik ditujukan hanya kepada Subhan .

Berkat kerja keras Jusuf Hasyim, Syaifudin Zuhri, KH. A. Syaichu, dan terutama Subhan  ZE berhasil menempatkan NU dalam dua besar Pemilu 1971. Persis di bawah Golkar. Menguasai 69,96 persen suara yang diperoleh partai-partai Islam. Itulah prestasi terbesar NU dalam kapasitasnya sebagai partai politik.

Usai pemilu, ia bersama Nasution menulis Buku Putih yang berisi Laporan Pimpinan MPRS 1966-1972. Belum sempat diedarkan secara luas, buku itu disita dan dimusnahkan oleh Kopkamtib karena berisi sejumlah kecaman.

Sebagai salah seorang pemain inti Subhan  memiliki musuh yang sangat kuat.Kritik-kritik tajamnya kepada pemerintah dan popularitasnya yang terus meningkat semakin menjadi ancaman rezim. Perilaku koruptif rezim jelas dia benci. Kebencian itulah yang membuat dia mati muda di usia 42 tahun.

Kematian Subhan  yang misterius disejajarkan oleh George Junus Aditjondro dengan kematian Baharudin Lopa, Udin ‘Bernas’, dan Agus Wirahadikusumah. Di matanya, mereka mati karena memiliki keberanian membongkar perilaku koruptif.

Entah kebetulan atau tidak, jenderal Amir Mahmud sedang berada di Arab Saudi pada waktu kematian Subhan . Hingga kini, kematiannya tidak pernah diinvestigasi.

Dinamika Idham dan Subhan
Tidak diterimanya figur Subhan  secara utuh di NU tidak lain karena gaya hidupnya yang dianggap flamboyan. Berbeda dengan kebanyakan pimpinan NU yang masih berperilaku tradisional-konservatif masa itu. Selain itu, sikap kritis Subhan  tidak hanya ditujukan ke luar tapi juga ke dalam.

Menurut catatan Arief Mudatsir Mandan dalam tulisannya berjudul ‘Subhan  ZE: Buku Menarik yang Belum Selesai”, Subhan  dibesarkan oleh keluarga Islam-tradisionalis (santri) yang cukup mapan di Kudus. Di masa kecil ia mendapatkan pendidikan modern di sekolah Muhammadiyah. Pendidikan terakhirnya hanya setingkat diploma dalam bidang ekonomi di University of California. Sejak kecil ia sudah dilatih menjadi pengusaha. Ayah angkatnya, H. Zaenuri Echsan, memberinya kepercayaan memimpin perusahaan rokok cap “Kucing” di saat usianya baru menginjak 14 tahun. Pertengahan tahun 1950-an ia sudah berhasil menjadi pengusaha yang meliputi usaha perdagangan, penerbangan, real estate, dan keuangan. Pengetahuan dan pengalamannya dalam bidang ekonomi menjadikannya sebagai seorang dosen dan komentator ekonomi.

Umar Basalim, aktivis PMII dan mantan rektor Universitas Nasional, mengatakan bahwa pada tahun 1965 Subhan  sudah memperkenalkan konsep ekonomi alternatif. Konsep itu juga yang membuat ekonom jebolan Barkeley, Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana, kelabakan dalam sebuah diskusi yang digelar di Universitas Indonesia awal 1966 (Prioritas, 42/2012).

Keberhasilan Subhan  menjadi pengusaha membuat hidupnya berlimpah. Menurut Greg Fealy, dalam bukunya ‘Ijtihad Politik Ulama’, Subhan  memiliki rumah mewah di Jakarta dan Singapura, serta beberapa villa. Ia menerbangkan sendiri pesawat pribadinya dan menyukai mobil balap. Kegemarannya berdansa dengan wanita-wanita glamor membuat dia dijuluki sebagai ‘Kennedy-nya Indonesia’ oleh teman-temannya.

Kegemaran itu pula yang akhirnya menjadi kurang diterima oleh para kyai senior. Subhan  gagal menjadi Ketua Umum Tanfidziyah meski didukung oleh banyak kalangan di internal NU. Diakomodasinya Subhan  sebagai Ketua I PBNU hanya bertahan sebulan setelah Muktamar ke-25/1971. Pada 21 Januari 1972 Subhan  dibebastugaskan oleh Rais Aam PBNU KH. Bishri Syansuri.

Di luar gaya hidupnya yang flamboyan, terdapat sejumlah friksi antara Subhan  dan kelompok Idham Chalid yang saat itu menjadi Ketua Umum PBNU. Friksi yang sesungguhnya sudah ada sejak era Orde Lama. Subhan  tidak terlalu menyukai strategi akomodasi yang diterapkan oleh PBNU. PBNU dinilainya terlalu cepat menerima konsep dan pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dan Nasakom. Hasilnya, PKI mempunyai pengaruh lebih di pemerintahan. Sementara Idham Chalid mempunyai sikap politik yang luwes dan fleksibel. Friksi atas pandangan politik ini terus berlanjut di masa awal Orde Baru.

Tulisan Choirul Anam menyebutkan bahwa isi pidato Subhan  dalam berbagai kampanye pemilu 1971 yang kerap mengkritik Orde Baru tidak direstui oleh Idham. Ia menyesalkan sikap Subhan  melalui media massa cetak dan elektronik.

Meski pada akhirnya dipecat, Subhan  tidak sendirian. Ia mendapat dukungan dari banyak kyai. Kyai Machrus Aly (Kediri), Kyai Ali Ma’sum (Yogyakarta), Kyai As’ad (Situbondo), Kyai Bisri Mustofa (Rembang), pengurus NU daerah, dan anak-anak muda NU. Polemik Subhan -Idham terhenti otomatis saat Subhan  wafat tanggal 21 Januari 1973 atau tepat satu tahun setelah pemberhentiannya.

Bagi van Bruinessen, dalam kata pengantar buku’ NU Muda’, selain Wahid Hasyim, Subhan  ZE merupakan figur NU paling menonjol yang kemudian di marjinalisasi dari sistem poltik. Idham Chalid, dalam kelonggarannya berpolitik, dianggap lebih mewakili pendirian kyai NU di banding keduanya.
Pulangnya Gus Dur dari studi awal 70-an membuat nama Subhan  sebagai politisi NU serba bisa: jago ngaji, penerbang, berdansa, dan berdagang berlahan tenggelam.


sumber: larasbumi.wordpress.com

Diberdayakan oleh Blogger.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Bluehost