Kamis, 08 Agustus 2013

Mempertanyakan R.A. Kartini








Tulisan ini tidak bermaksud mengecilkan jasa-jasa seorang R.A. Kartini yang turut membangkitkan semangat kaum wanita Indonesia untuk maju. Juga tidak merendahkan penghargaan gelar pahlawan kepada beliau oleh pemerintah. Tapi hanya ingin menyadarkan kita bahwa tidak sepenuhnya sejarah itu mutlak benar, dan apa-apa yang kita yakini kebenarannya saat ini bisa saja sebuah kekeliruan yang harus dikoreksi.




Bermula di tahun 1970-an, ketika itu guru besar Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar mengkritik “pengkultusan” R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta Pustaka Sinar Harapan, 1990 cetakan ke-4), Harsja W. Bachtiar menulis sebuah artikel berjudul: Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda.

Harsja juga menggugat dengan halus, kenapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia.

Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut. Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu.
Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami-istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.






Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbut terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922, terjemahan Empat Saudara). Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C. Th. Van Deventer.






.H. Abendanon (1852-1925) adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda dari tahun 1900-1905. Ia datang ke Hindia-Belanda pada tahun 1900 dan ditugaskan oleh Belanda untuk melaksanakan Politik Etis. Karena baru di Hindia-Belanda, Abendanon tidak mengetahui keadaan masyarakat Hindia-Belanda dan tidak paham bagaimana dan dari mana ia memulai programnya. Untuk keperluan itu, Abendanon banyak meminta nasihat dari teman sehaluan politiknya, Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang terkenal sebagai arsitek perancang kemenangan Hindia-Belanda dalam Perang Aceh.

Di bawah Abendanon, sejak tahun 1900 mulai berdiri sekolah-sekolah baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah. Pada tahun ini sekolah Hoofdenscholen (sekolah para kepala) yang lama diubah menjadi sekolah yang direncanakan untuk menghasilkan pegawai-pegawai pemerintahan dan diberi nama baru OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren).






J.H. Abendanon kemudian dikenal sebagai salah satu teman koresponden Kartini dan dialah yang menulis buku berjudul Door Duisternis tot Licht yang diterjemahkan oleh Armyn Pane menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku Door Duisternis tot Licht di terbitkan tahun 1911 oleh pemerintah Belanda. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan anehnya pada. cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. (Wikipedia).


Di atas disebutkan peran Snouck Hurgronje sebagai teman bertukar pikiran J.H. Abendanon dalam menjalankan politik etis. Siapa Cristiaan Snouck Hurgronje pasti pembaca sudah banyak yang mengetahuinya. Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah seorang pendeta Protestan seperti halnya ayah, kakek, dan kakek buyutnya. Sejak kecilnya Snouck sudah diarahkan pada bidang teologi. Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab di tahun 1875. Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikat cum laude dengan disertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah). Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arabnya, Snouck kemudian melanjutkan pendidikan ke Mekkah tahun 1884. Di Mekkah, keramahannya dan naluri intelektualnya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dan untuk kian merebut hati ulama Mekkah, Snouck memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar.






Namun, pertemuan Snouck dengan Habib Abdurrachman Az-Zahir, seorang keturunan Arab yang pernah menjadi wakil pemerintahan Aceh, kemudian berhasil “dibeli” oleh Belanda dan dikirim ke Mekkah, mengubah minatnya. Atas bantuan Zahir dan Konsul Belanda di Jeddah, JA Kruyt, dia mulai mempelajari politik kolonial dan upaya untuk memenangi pertempuran di Aceh. Setelah saran-sarannya tak ditanggapi Gubernur Belanda di Nusantara, Habib Zahir yang kecewa menyerahkan semua naskah penelitiannya kepada Snouck yang saat itu, tahun 1886, telah menjadi dosen di Leiden.






Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouk dalam penyamarannya sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ulama. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai Mufti Hindia Belanda. Juga ada yang memanggilnya Syaikhul Islam Jawa. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam; Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya (hal 116).






Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta, LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya adalah melakukan pembaratan kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka.






Politik Etis, balas budi Belanda atau perlawanan terhadap syiar Islam?


Sebelumnya telah disinggung mengenai Poltik Etis sebagai program pemerintah Belanda yang harus dijalankan oleh J.H. Abendanon sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.

Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa yang diterapkan sebelumnya. Dengan dipelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (seorang politikus), pemikiran ini diterima oleh pemerintah kolonial seperti disebutkan dalam pidato Ratu Wilhelmina pada tanggal 17 September 1901, pada saat baru naik tahta di pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tadi ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias Politika yang meliputi:


Quote:




1. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian

2. Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk transmigrasi

3. Memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan (edukasi).



Namun sayangnya, penjajah tetaplah penjajah, niat baik dari penggagas politik etis ini dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial untuk memperkuat cengkeraman kuku-kuku penjajahannya di bumi Nusantara. Kebijakan pertama dan kedua disalahgunakan oleh Pemerintah Belanda dengan membangun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda dan transmigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi. (Wikipedia),

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hugronje?


Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Belanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis;


Salam, Bidadariku yang manis dan baik! … Masih ada lagi satu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut; Apalah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya. (Buku: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, penerjemah: Sulastin Sutrisno, Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000, hal 234-235).


Keraguan atas surat-surat Kartini


Secara umum surat-surat R.A. Kartini kepada teman-teman korespondensinya hanya diketahui dari buku J.H. Abendanon. J.H. Abendanon dan istrinya mengaku sebagai salah satu teman korespondensi Kartini, dimana beberapa surat Kartini yang ditujukan kepadanya dan istrinya juga turut dipublikasikan di dalam bukunya itu. Namun sampai sekarang, sebagian besar naskah asli surat-surat Kartini yang dijadikan bahan penulisan buku tersebut maupun jejak J.H. Abendanon sendiri sebagai penulis dan keturunannya belum ditemukan, sehingga ada dugaan sebagian surat-surat Kartini atau isinya direkayasa oleh J.H. Abendanon. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis.


Layakkah Kartini sebagai pahlawan Indonesia?


Seperti halnya beberapa warisan kolonial Belanda lainnya yang sampai sekarang masih dipertahankan dan dijadikan acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, seperti peraturan perundangan-undangan dan hukum, maka kepahlawanan seorang R.A. Kartini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita sebagai bangsa, apakah akan terus dipertahankan atau dikoreksi keberadaannya.






Sumber: Dikutip langsung dari http://forum.viva.co.id/sejarah/1129535-kontroversi-ra-kartini-pahlawan-wanita-hasil-rekayasa-belanda.html








Sabtu, 13 April 2013

Ujian Nasinal Vs Darurat Negara


Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Departemen Pendidikan Nasional dengan program ujian nasional yang sementara berjalan saat ini, tulisan ini hanyalah menjadi perenungan bagi kita bersama untuk lebih menggumuli berbagai persoalan bangsa kita yang salah satu sumbernya berasal dari aspek yang paling hakiki, yakni pendidikan.

Berbagai fakta-fakta yang muncul di seputar ujian nasional yang sementara berjalan saat ini sungguh memiriskan hati. Dan oleh sebab itu menjadi sebuah ironi, di tengah-tengah usaha negara untuk memajukan kehidupan peradabannya melalui lembaga yang paling dipercaya oleh keluarga-keluarga Indonesia untuk menjadikan anak-anak mereka mempunyai masa depan yakni sekolah. Ironi karena ternyata untuk sebuah ujian nasional (Jakarta) di negara kita harus dijaga oleh pasukan elit detasemen khusus Anti Teror 88. Entah siapa teroris yang harus dijaga? Bom kertas, guru teroris atau murid teroris, atau teroris pembocor soal ujian yang menyusup dalam ujian nasional. Ironi karena beberapa guru dan kepala sekolah harus berurusan dengan polisi karena melakukan kejahatan pembocoran soal padahal tujuannya hanyalah untuk “membantu” rupanya mereka tidak percaya dengan usaha mereka mengajar anak selama ini sehingga anak perlu bocoran soal. Ironi karena banyak anak-anak yang menangis ketakutan dan stres karena akan ujian sepertinya mereka akan dibawa ke killing field (ladang pembantaian) momoknya adalah jangan-jangan mereka tidak lulus. Sebab pengalaman tahun yang lalu, banyak siswa berprestasi yang bahkan sudah diterima di universitas luar negeri terjegal dan tidak lulus dengan hasil tidak mencapai batas nilai minimal kelulusan 5. Padahal angka 5 dalam bahasa raport pendidikan berarti tidak cukup. Ironi karena sebagian besar masyarakat Indonesia sementara menghadapi ancaman krisis ekonomi dan krisis-krisis lainnya padahal pendidikan dianggap sebagai jalan keluar untuk entas dari problematika bangsa. Parahnya lagi ternyata ada banyak sarjana dan para muda produktif yang sudah menyelesaikan berbagai pendidikan kursus tapi belum mendapatkan pekerjaan. Ironis betul negara kita Indonesia karena ada begitu banyak siswa negara yang dahulunya datang belajar di Indonesia, sekarang menjadi tempat di mana banyak anak-anak kita pergi untuk studi. Ironis karena negara mereka sudah lebih dahulu sukses dan maju sementara negara kita tempat di mana mereka pernah belajar dahulu, semakin hari semakin terpuruk.

Indonesia yang begitu luas dari Sumatera sampai Papua, dari sekolah dengan standard internasional yang ada di kota-kota, gedung dengan berbagai laboratorium, kelas yang ber-AC, guru yang berpredikat Magister Pendidikan ditambah lagi les privat serta kelas-kelas bimbingan ujian nasional yang bertarif jutaan, yang ironisnya berbanding sebaliknya dengan anak-anak di daerah-daerah misalnya di pelosok Papua yang gurunya sangat minim (bahkan ada sekolah yang gurunya oleh seorang waker-penjaga sekolah). Dalam pelaksanaan ujian, sentralisasi pemeriksaan lewat scaning komputer, pengawasan ketat bahkan melibatkan aparat kepolisian walaupun ada pengkategorian soal ujian, akan tetapi bagaimana mungkin secara nasional hendak disetarakan hasilnya. Belum lagi masalah distribusi ke daerah bahkan juga pengembalian soal-soal dari pulau dan daerah terpencil. Belum lagi masalah eror teknologi komputer dan eror-eror lainnya.

Dua fakta mendasar yang jarang diperhatikan yakni pertama dalam Child Development Goal ada beberapa aspek yang menjadi sasaran: 1. Pengembangan Sosial, 2. Pengembangan Emosional, 3. Pengembangan Fisik, 4. Pengembangan Ekonomi, 5. Pengembangan Kerohanian. 5 pengembangan ini juga disebut pengembangan holistrik/menyeluruh. Pengembangan intelektual hanyalah salah satu aspek dalam fisik anak. Sedangkan menurut Tony Buzan (Head First 2003) ada 10 macam kecerdasan dari multiple intelegences dengan 3 kategori kecerdasan: Pertama, kecerdasan kreatif dan emosi, Kedua, kecerdasan ragawi dan Ketiga, yang disebut kecerdasan tradisional yakni IQ. Perhatikan IQ yang sementara dikejar dalam ujian nasional ini masuk dalam kategori kecerdasan tradisional yang berarti kalau visi ini yang menjadi tujuan utama dalam ujian nasional ini berarti negara kita masih dalam paradigma pendidikan yang bervisi tradisional. Menurut Howard Gardner seorang pakar dalam Multiple Intelegences IQ bukanlah yang paling utama, bahkan ia menambahkan bahwa yang tidak kalah pentingnya adalah kecerdasan intrapersonal (kemampuan untuk mengetahui dan memahami diri sendiri) dan kecerdasan interpersonal (kemampuan efektif dalam sosialisasi diri). Kecerdasan intelektual bukanlah faktor penentu seorang bisa sukses akan tetapi juga ada faktor-faktor dasariah lainnya yang menjadi penentu seorang anak bisa berhasil dalam hidupnya. Dari dua fakta yang disebutkan di atas, ternyata big question dari program ujian nasional, adalah bahwa apa yang hendak diuji hanyalah menyangkut aspek intelegensi dan hanya menekankan aspek pengetahuan. Sementara sang anak didik ini telah belajar sekian tahun berjuang siang dan malam, melahap semua jenis pengetahuan, belajar etika, sopan santun, belajar bersosialisasi, diberi wejangan nasihat oleh guru setiap hari, dan finalnya hanya ditentukan oleh sebuah ujian yang berlangsung hanya 120 menit. Ironis. Mau jadi apa bangsa kita ini apabila kualitas manusianya hanya ditentukan oleh sebuah hasil ujian. Padahal fakta membuktikan banyak anak-anak yang nilai pelajarannya biasa-biasa saja, akan tetapi kemudian bisa sukses. Sebagai contoh maestro genius dunia, seperti Albert Einstein, dan Thomas A Edison dianggap bodoh oleh gurunya karena nilai pelajarannya rendah, tapi ternyata mereka bisa membuat karya-karya besar. Belum lagi ada begitu banyak orang yang sukses dan berhasil di berbagai bidang termasuk atlet dan artis terkenal yang dahulunya biasa-biasa saja dan boleh dikatakan “bodoh” oleh gurunya semasa mereka bersekolah.

Pendidikan harus dikembalikan pada hakekat dan tujuan luhurnya yang bukan terkontaminasi oleh tujuan politis. Pendidikan harus melihat bahwa seorang anak sebagai sebuah individu yang komplit yang Tuhan sudah ciptakan dengan miliaran sel otak dan potensi tak terbatas dan salah satu tapi bukan satu-satunya aspek intelektual anak yang harus dirangsang dikembangkan. Filosofi guru digugu dan ditiru akan tetapi guru bukanlah menjadikan anak sebagai fotokopi seperti yang diinginkan oleh guru. Tugas guru dalam sebagaimana definisi Pedagogik tugasnya adalah mengantar seorang anak didik untuk menemukan jalan arah supaya dia sendiri akan mengembangkan dirinya menurut arah dan jalan yang telah ditunjukkan oleh seorang mentor atau guru, tugas guru merangsang anak untuk memiliki mimpi (visi) tentang masa depannya, gairah dan kemauan keras untuk memaksimalkan imago Dei (citra Tuhan) yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Sehingga seorang anak akan berjuang memaksimalkan semua potensi diri yang sudah ditanamkan lewat miliaran sel otak yang siap berkembang dan bertumbuh secara luar biasa. Tugas guru dan negara-negara adalah menyediakan fasilitas dan melapangkan jalan bagi anak supaya dapat bertumbuh berkembang menjadi generasi bangsa yang luar biasa untuk masa depannya pribadi tetapi juga untuk orang lain. Bangkitlah Pendidikan Indonesia!!!#

* Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Program Pascasarjana  Konsentrasi Pendidikan islam IAIN Sunan Ampel Surabaya. e-mail: anangromli@ymail.com

Rabu, 27 Juni 2012

QOSIDAH/SAMROH INSPIRATOR BERDIRINYA BOYBAND DAN GIRLBAND DI DUNIA


Oleh: Anang Romli

Kasidah (qasidah, qasida; bahasa Arab: "قصيدة", bahasa Persia: قصیده atau چكامه dibaca: chakameh) adalah bentuk syair epik kesusastraan Arab yang dinyanyikan. Kasidah adalah seni suara yang bernapaskan Islam, dimana lagu-lagunya banyak mengandung unsur-unsur dakwah Islamiyah dan nasihat-nasihat baik sesuai ajaran Islam.

Awalnya rebana berfungsi sebagai instrument dalam menyayikan lagu-lagu keagamaan berupa pujian-pujian terhadap Allah swt dan rasul-rasul-Nya, salawat, syair-syair Arab, dan lain lain. Oleh karena itulah ia disebut rebana yang berasal dari kata rabbana, artinya wahai Tuhan kami (suatu doa dan pujian terhadap Tuhan)
Lagu kasidah modern liriknya juga dibuat dalam bahasa Indonesia selain Arab. Grup kasidah modern membawa seorang penyanyi bintang yang dibantu paduan suara wanita. Alat musik yang dimainkan adalah rebana dan mandolin, disertai alat-alat modern, misalnya: biola, gitar listrik, keyboard dan flute. Perintis kasidah modern adalah grup Nasida Ria dari Semarang yang semuanya perempuan. Lagu yang top yakni Perdamaian dari Nasida Ria. Pada tahun 1970-an, Bimbo, Koes Plus dan AKA mengedarkan album kasidah modern.
Alunan suara merdu di iringi dengan gerakan yang seragam dan tarian sederhana (tidak terlalu over act) yang menghasilkan suatu kesenian baru pada era tahun 70 an. Mungkin saat ini seperti gerakan girlband. Pada tahun 70 an banyak berdiri kelompok sejenis di mana mana bahkan sampai di desa desa.
Fenomena tahun 70 an tersebut tentu lebih tua di banding dengan boyband dan girlband di Amerika maupun Korea. Seperti westlife, berawal pada tahun 1996 di sligo, sebuah kota kecil di sebelah utara irlandia; Backstreet Boys sangat terkenal di era 1990 dan 2000-an. Boyband asal Amerika Serikat ini dibentuk pada 1993, juga lainnya seperti N'Sync pada 1996 dll. Begitu juga bpyband dan girlband korea juga tergolong baru di banding dari Amerika.

Mungkin saja girlband dan boyband terinspirasi dari samroh yang ada di Indonesia yang notabene kelompok band (samroh) yang lebih tua. Parahnya lagi para ABG Cuma ikut ikutan bahkan banyak stasiun TV juga banyak mengadakan kompetisi untuk nenarik pendaftaran boyband dan girlband baru di negeri ini.
Seharusnya bangsa ini tidak kehilangan atau kekurangan akal untuk memodifikasi samroh dan kosidah ala jadul mendaji samroh yang modern yaitu dengan gerakan gerakan tari tarian tradisional seperti: Tari Serampang Dua Belas, Tari Tor-tor, tari pendet, Tari Tanggai dan Tari Putri Bekhusek dll, seraya di perkenalkan kepada public bahwa bangsa kita adalah bangsa yang kreatif tidak hanyak asal tiru bahkan bangsa kita adalah inspirator persdaban dunia.

Jumat, 25 Mei 2012

Kurikulum Pelatihan Kader Dasar

A. Pengertian
Pelatihan kader dasar (PKD) merupakan pengkaderan formal basic ke dua. Pada fase ini persoalan doktrinasi niai-nilai dan visi PMII, penanaman loyalitas dan militansi gerakan, diharapkan sudah tuntas.
B. Model pendekatan
Karena persoalan doktrinasi nilai, ideology visi-misi PMII yang sudah tuntas, sehingga pendekatan doktrinasi sudaj tidak diperlukan dalam lagi dalam pelatihan kader dasar kedua ini. Tetapi pendekata yang harus dipakai adalah dengan pendekatan partisipatoris aktif, sehingga perana semua unsure yag terlibat dalam pelatihan sangat mempengaruhi terjadinya dinamika dan dialektika selama proses pelatihan berjalan.
C. Tujuan target
Secara garis besar PKD ini bertujuan untuk membekali kader dengan kemampuan-kemampuan praksis dengan pijakan teori dan pengetahuan. Karena itu tujuan dan tarjet yang harus dicapai pada fase ini adalah:
a) tertanamnya keyakinan dan komitmen terhadap dunia gerakan.
b) Penguasa terhadap prinsip-prinsip
D. Kurikulum
Sesi I
Bina suasana
a. Tujuan
Peserta, panitia, dan fasilitator mengetahui semua komponen yang terlibat dalam pelatihan sehingga dapat mengenali dirinya sendiri dan teman epelatihannya, sehingga dapat terbina suasan pelatihan yang penuh keakraban dan kebersamaan diantara semua komponen tersebut. Disepakatinya beberapa aturan main selama pelatihan berlangsung, baik kewajiban, hak dan kekhawatiran-khawatiran yang akan terjadi selama pelatihan berlangsung.
b. Pokok bahasan
1) perkenalan
2) penyususnan, harapan, dan kekhawatiran dari peserta, panitia dan fasilitator.
3) Citra diri peserta.
4) Kontrak belajar.
c. Bahan-bahan
1) kertas kecil secukupnya.
2) Spidol
3) Kertas plano
d. Metode
1) role playing
2) brainstorming
e. Proses kegiatan
1) panitia/ fasilitator membuka sesi dengan memperkenalkan identiytas dirinya, dan meminta tiap-tiap peserta untuk memperkenalkan dirinya “identitas” dan pengalaman dirinya yang dibantu dengan role playing.
2) Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk mengungkapkan harapn-harapannya selama mengikiti seluruh rangkaian atau proses pelatihan ini serta kekhawatiran-kekhawatiran yang ditakutkan akan terjadi.
3) Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk menyebutkan hal-hal yang diperlukan atau dilakukan demi tertib, lancar, dan suksesnya proses pelatihan ini.
4) Fasilitator mendorong terjadinya kesepakatan anatara peserta tentang perlunya tatatertib pelatihan.
5) Seluruh peserta mensepakatu selyuruh tatatertib pelatihan.
f. Waktu
Pada waktu bina suasana ini memerlukan waktu selama 120 menit.
Sesi II
Aswaja sebagai manhaj al fikr
1. tujuan
a) peserta mampu memahami dan merekontruksi, sejarah perkembangan pemikiran –pemikiran islam sejak zaman nabi hingg sekarang.
b) Peserta mampu memahami proses kemunculan pemikiran-pemikiran islam sebagai sebuah pengetahuan (teori) dan konstruksi global.
c) Peserta mampu memahami aswaja sebagai metodologi berfikir dalam upaya memahami ajaran-ajaran islam dan landasan gerakan sebagai upaya untuk menemukan posisi gerakan PMII dalam konteks local-nasional dan global.
2. pokok bahasan
a. pengaruh sosio-historis-kultural bangsa arab dan bangsa-bangsa lain terhadap perkembangan pemikiran Islam
b. latar belakang ekonomi-sosial-politik pemerintahan Islam zaman awal terhadap proses pelembagaan madzab dalam Islam.
c. Aswaja sebagai Manhaj al fikr
3. bahan-bahan
a) spidol/karur tulis
b) papan tulis/ kertas plano
c) makalah/materi ceramah
4. metode
a) Ceramah/presentasi
b) Dialog (Tanya jawab)
c) Diskusi kelompok
5. waktu
240 menit dibutuhkan untuk memberikan kepahaman pada peserta pelatihan.
6. proses kegiatan
a) Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sesi ini;
b) Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sesi ini;
c) Dialog dan/ atau klarifikasi;
d) Diskusi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok

Sesi III: ISLAM DAN TEOLOGI PEMBEBASAN
1. Tujuan
a) peserta memahami latar belakang kemunculan teologi pembebasan dalam perspektif amar makruf nahi munkar
b) peserta memiliki sense-gerakan terhadap kenyataan empiris dalam konteks local-nasional maupun global
c) peserta menginternalisasi dan mengimplementasikan prinsip dan nilai-nilai egalitarianisme dan universalitas Islam.
2. Pokok bahasan
a) Latar belakang kemunculan teologi pembebasan dan perspektif terhadap perubahan.
b) Hakikat amar ma’ruf nahi munkar dalam konteks perubahan social.
c) Nilai-nilai egaliatarianisme sebagai nilai tertinggi dalam perubahan social.
3. Bahan-bahan
a) Spidol
b) kertas plano
c) makalah
4. Metode
a) ceramah
b) dialog
c) diskusi kelompok
5. Proses kegiatan
a) moderator atau fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sesi ini.
b) Narasumber atau fasislitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sesi ini
c) Dialog dan atau klarifikasi
d) Diskusi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.
6. Waktu
120 Menit merupakan waktu yang dibutuhkan dalam memahami Islam dan teologi pembebasan.
Sesi IV
PARADIGMA PMII
1. Tujuan
Peserta memahami paradigma gerakan PMII dan menjadikan sebagai metodologi berfikir dan gerakan serta dalam mengimplementasikanya dalam prilaku, sikap, dan kehidupan pribadi, berorganisasi dan berdialektika dalam pergerakan.
2. Pokok bahasan
a) membaca realitas gerakan dan keindonesian sebagai landasan epistemology paradigma gerakan.
b) Filosofi paradigma PMII
c) Rumusan paradigma sebagai strategi gerakan
d) Internalisasi dan implementasi gerakan dalam kehidupan pribadi dan organisasi
3. Bahan-bahan
a) spidol
b) kertas plano
c) makalah
4. Metode
a) ceramah
b) dialog
c) diskusi
5. Proses kegiatan
a) moderator fasilitator membuka sesi dengan menjelaskan secara umum tentang materi.
b) Narasumber atau fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi
c) Dialog dan klarifikasi
d) Diskusi kelompok dan diskusi pleno
6. Waktu
Pada pembahasan materi ini memerlukan waktu selama 240 menit.
Sesi V
ANALISIS SOSIAL
1. Tujuan
a) peserta mampu memahami realitas masyarakat sebagai landasan analisa dalam perspektrif local-nasional dan global .
b) peserta mampu memahami prinsip-prinsip dan model analisa untuk menentukan strategi dan posisi PMII sebagai organisasi pergerakan
2. pokok bahasan
a) realitas masyarakat
b) prinsip dan model analisa social
c) fungsi analisa social untuk menentukan posisi dan strategi gerakan.
d) Perangkat-perangkat analisa social.
3. bahan-bahan
a) spidol
b) kertas plano
c) makalah
4. metode
a) ceramah
b) dialog
c) diskusi kelompok
d) role playing
5. proses kegiatan
a) moderator atau fasilitator membuka sesis ini.
b) Moderator atau fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan pada materi ini.
c) Dialog atau klarifikasi
d) Diskusi kelompok
6. waktu
pada sesi ini memerlukan waktu 240 untuk pemahan peserta pelatihan.
Sesi VII
ANALISA WACANA
1. Tujuan
2. Pokok bahasan
3. jhjjp jhjjp
4. kuhp
b) peserta mamou memahami alur dan nalar dari setiap kemunculan wacana
c) pesert mampu memahami tekhnik membaca wacana
d) peserta mampu memahami pada apa dibalik wacana-wacana tersebut.
Pokok bahasan
1. Bahan-bahan
7. Metode
8. Proses kegiatan
9. Waktu

Rabu, 09 Mei 2012

PROSEDUR PENERBITAN MAJALAH

Cara Menerbitkan Majalah
1.      Ada wadah/media ---VISI
2.      Terbentuk tim kerja (Redaksi)
3.      Tersedia dana untuk biaya cetak/ongkos pelaksanaan penerbitan.
4.      Tersedia sarana dan prasarana (computer, tempat kerja, kamera)
5.      Punya calon pembaca atau pasar yang menjadi konsumen.
6.      Punya target waktu sejak perencanaan sampai majalah ada ditangan pembaca.

Dimulai Dari Rapat Redaksi
1.      Bersama-sama menyumbang ide untuk dapat  “apa tema utama/tema besar/tema luas/tema mendalam penerbitan kali ini dan memberi alasan atau pertimbangan mengapa tema tersebut dipilih.
2.      Bersama menyumbang ide-ide lain karena di dalam suatu terbitan majalah ada dua tema yaitu: diutamakan dan yang tidak diutamakan.
3.      Memikirkan rubrik-rubrik.
4.      Membagi tugas.
5.      Menetapkan jangka waktu kerja di lapangan.

Cara Kerja Wartawan
1.      Seorang wartawan menerima tugas dari Ketua Redaksi untuk melakukan liputanatau untuk menulis tentang satu topic.
2.      Memetakan topic tersebut (dimana lokasi liputan, siapa yang dapat dihubungi,membaca sumber terkait untuk memperkaya liputan, kapan waktu liputan)
3.      Mempersiapakan alat (kamera, kendaraan, alat perekam suara, buku catatan,daftar hal yang ingin diketahui, no HP informan, peta perjalanan, prediksi waktukerja)
4.      Di lapangan (mencatat, memotret, bertanya, melihat, merasakan,mengutip pendapat orang-orang), mencatat dilakukan dengan rinci dan  detail. Jangan hanya mengandalkan alat perekam. Bertanya banyak. Gali banyak informasi dari narasumber (segala hal yang terkait dengan dia: rumah,keluarga, kendaraan, kekayaan yang tampak –mobil, jam tangan, HP, kosmetik,pakaian dll.—pendidikan, hobi, pandangan hidup dll)

Lebih detil lakaukan hal-hal ini
1.      Catat segala hal dengan rinci.
2.      Jika ragu-ragu tanya ulang
3.      Tanyakan setiap hal yang tidak diketahui (nama tanaman mislanya, ataucara mengolah suatu ramuan, cara melakukan suatu praktik)
4.      Bikin foto minimal 20 “klik”
5.      Cek foto
6.      Minta dokuem terkait yang dimilik narasumber yang ada kaitannya denganliputan dan topic wawancara.
7.      Kembangkan liputan di lapangan (temukan tema terkait, tema yagbertentangan dll)


Setelah Liputan
1.      Ingat apa yang didapat
2.      Mulai buka hasil liputan (putar rekaman, lihat foto, lihat catatan)
3.      Salin catatan dalam bentuk tulisan teratur.
4.      Ceritakan kembali secara tulisan apa yang ada dalam rekaman.
5.      Pilah-pilah isi catatan anda (informasi keluarga, informasi alam, informasiopini, informasi sejarah, informasi tambahan, informasi pendukung,informasi lepas, informasi mistik, informasi yang off record, dll.)
6.      Perhatikan mana informasi yang paling banyak anda punya dan andadapat.
7.      Perhatikan mana kira-kira informasi yang paling lucu, unik, menarik,dramatis, konyol, benar-benar baru, mengejutkan.
8.      Menulis draft, tulis kasar dengan tanpa pertimbangan.
9.      Baca kembali draft. Perbaiki. Perkaya. Tambahi. Kurangi
10.  Edit bahasa
11.  Baru bikin judul
12.  Sampai anda merasa puas.
13.  Lihat foto dan pilih yang bagus menurut anda. Paling satu atau dua.
14.  Foto bagus: cahaya cukup, memberi kesan tertentu, komposisiseimbang, merekam apa yang ingin direkam, fokus/tidak blur, tidakmerugikan subjek foto.
15.  Menyetor hasil liputan kepada sekretaris redaksi atau redaksi pelaksana (viaemail/langsung dalam rupa kopi keras/soft copy.

KEMAMPUAN YANG HARUS DIASAH
1.      MENULIS
2.      BERKONTAK DENGAN NARASUMBER
3.      MELIHAT REALITAS/MENGENALI REALITAS
4.      MEMILIH PERISTIWA/TOPIK YANG BERNILAI BERITA
a.       Kolosal
b.      Langka/unik
c.       Gejala alam
d.      Criminal
e.       Prestasi/perjuangan hidup
f.       Menyangkut kepentingan banyak orang
g.      Kebijakan baru/politik
h.      Seks
i.        Mistik/gaib
j.        Penemuan baru
k.      Gaya hidup
l.        Adat/tradisi
m.    Seni
n.      buku

MENULIS SUATU LAPORAN BERGAYA JURNALISTIK
1.      Berita langsung
2.      Berita kisah
3.      Narasi.deskripsi
4.      Mengutip kata-kata narasumber atau buku, film, lagu, pamphlet
5.      Gaya bahasa (pilihan kata, metaphor/berbahasa kiasan/bahasa kreatif)
6.      Membuat judul laporan (singkat dan jelas dan mencerminkan isi.
7.      beritalangsung, mengundang rasa ingin tahu, simbolis, berkiasan
8.      berita kisah/wawancara

http://www.scribd.com/ 

GERIMIS TAJAM DI BULAN JANUARI

mendung kelabu menitikan gerimis
gerimis tajam menghujam jantungku
tersungkur lemah  dan tak berdaya

gerimis itu datang sangat kencang
sekencang badai di padang pasir
jiwa kecil ini tak berdaya untuk bangkit



cinta fobia



Gemuruh ombak ditengah ladang ...
Semilir angin ditengah lautan ...
Cahaya sang bintang menerangi malam ...


Sang rembulan pudar akan terangnya siang ...
Semua sirna tinggal harapan ...
Ta' ingin semua sirna tanpa alasan ...


Karena cinta bukanlah sebuah permainan ...
Cinta yang dulu pernah kau hancurkan ...
Kini menjadi sebuah trauma yang begitu mendalam ...

Diberdayakan oleh Blogger.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Bluehost